Blog ini kedepannya akan memuat kegiatanku bersama para penggerak BMT (Baitul Maal wa Tamwil) dari seluruh Indonesia.

Rabu, 31 Agustus 2011
Marissa Haque: Berat Jadi Duta Lembaga Pendidikan
JAKARTA - Artis senior Marissa Haque telah dinobatkan menjadi duta LP3I. Diakuinya pekerjaan barunya tersebut bisa dibilang cukup berat.“Kalau bicara berat itu pasti, karena ini bicara tanggung jawab, dan bagi saya pun karena ini bentuk ibadah seperti bernafas, senyuman itu ibadah dan ini bukan tugas biasa bagi saya,” ujar Marissa Haque saat ditemui di Gedung ESQ, Jalan TB Simatupang, Jakarta Selatan, belum lama ini.
Dengan menjadi duta LP3I, istri Ikang Fawzy ini menambahkan setidaknya bisa menjadi bagian dari pendidikan di Indonesia yang mulai memprihatinkan.“Keterlibatan aku sebagai duta disini setidaknya aku bisa memberikan pengetahuan yang baik.
Apalagi kondisi pendidikan di Indonesia mulai sedikit memprihatinkan,” katanya.Diakuinya lagi, mengenyam pendidikan hingga menuju gelar Doktor, membuat kakak kandung Shahnaz Haque merasa punya kewajiban untuk membagi ilmu yang didapat selama dirinya menempuh pendidikan.“Learning by doing, semua saya kerjakan dengan baik. Banyak pengetahuan yang bisa saya berikan untuk siapapun. Lebih pada motivasi, mungkin lebih pada dakhwahnya sehingga itu bisa bermanfaat,” tukasnya.(nov)
Sumber : http://celebrity.okezone.com
“Kuncinya adalah Pasangan: Keberhasilan Ikang Fawzi & Marissa Haque (Duta LP3I)”
Selamat Iedul Fitri bagi yang Telah Memulainya
Minal aidin wal Faidzin, Maaf Lahir dan Bathin…
Selamat Iedul Fitri bagi yang Telah Memulainya
Minal aidin wal Faidzin, Maaf Lahir dan Bathin…


Pada tanggal 18 Agustus 2011 lalu selepas HUT Kemerdekaan RI ke 66, saya Marissa Haque Fawzi berhasil lulus dengan nilai “A” bulat dari FEB (Fakultas Ekonomi Bisnis) di UGM (Universitas Gadjah Mada). Sebelumnya pada awal tahun tepatnya Januari 2011 ini Ahmad Zulfikar Ikang Fawzi suamiku berhasil lulus duluan dengan pencapaian sama yaitu “A” bulat juga. Bukan untuk bersaing namun justru kelak untuk saling melengkapi atau aliansi atau kolaborasi. Karena Ikang lebih fokus kepada ekonomi makro berbasis kepada Teori Adam Smith (Keynesian) sementara saya lebih memilih meletakkan hati-pikiran-energi kepada ekonomi mikro syariah berbasis kepada semangat Prof Mubyarto (Mubyartois).
Proses ujian sidang MBA saya alhamdulillah paling lancar di hari itu, karena hanya memakan waktu sekitar 25 menitan. Dengan masa 15 menit presentasi dan 5-10 menit menjawab pertanyaan lisan dari tiga orang penguji, yaitu: (1) Prof.Dr. Basu Swatha Dharmmesta/Pakar Marketing Strategic temannya Prof. Philip Kottler; (2) Dr. Fahmi Radhi/Direktur The Mubyarto Institute; (3) Dr. Goedono/Pakar Strategic Management.
Selesai ujian sidang tertutup MBA tersebut saya langsung didaulat untuk mempresentasikan hasil penelitian selama enam bulan tersebut di LOS (Lembaga Ombudsman Swasta) milik Pemda DIY/Kesultanan Yogya sembari buka puasa bareng dengan beberapa media lokal di sana.
Keseokan harinya tertanggal 19 Agustus 2011, silaturahim ke Pendopo Keluarga besar Prof.Dr. Amin Rais Guru Besar FISIPOL UGM. Di sana saya diterima anak menantu Pak Amin Rais istri dari Hanafi Rais beserta Ibu dan anak-anaknya. Juga Hanum Rais putri Pak Amin yang memiliki hobi sama dengan saya yaitu : “menulis!”
Tak dinyana ternyata kami merasa cocok dan ingin terus melanjutkan silaturahim ke depannya demi kemajuan Daerah Istimewa Yogyakarta. Kami ingin melihat Mas Hanafi Amin Rais menjadi Walikota Yogyakarta 2011 besok ini. Karena Mas Hanafi dan juga Prof. Amin Rais sangat mendukung keberadaan BMT seperti apa yang telah saya dapatkan dari hasil penelitian MBA ku sebelumnya.
Insya Allah doa kami semua dapat ridho Allah Azza wa Jalla dan dikabulkan-Nya…
Amiiiin… Ya Robbal Alamiiin…
“Marissa Haque & Ikang Fawzi: Silaturahim di Yogya Memang Berkah “
Tupoksi BMT Memotong Laju Rentenir
Sumber: http://www.radarjogja.co.id/ekonomi-bisn…
Pinjaman kredit menjadi idola pelaku usaha. Terutama bagi pedagang pasar tradisional. Hanya saja, saat ini masih saja ditemui pedagang yang lari ke rentenir untuk mendapat pinjaman uang di bawah Rp 1 juta. Memang awalnya, prosedur mendapatkan dana tersebut mudah. Namun ujung-ujungnya, bunga yang diterapkan akan membelit dan merugikan pedagang bersangkutan.
“Peran koperasi, termasuk BMT (Baitul Maal wa Tamwil) sangat penting untuk memotong laju rentenir,” kata Marissa Haque Fawzi, Duta BMT saat mempresentasikan hasil kajiannya di Kantor Pusat BMT Beringharjo, kemarin (19/8).
Lebih lanjut, dari data yang dimiliki Marissa, saat ini sebagian besar memang menuju koperasi dalam mendapatkan pinjaman uang di bawah Rp 1 juta. Jika dipersentasekan sekitar 45,5 persen. Sedangkan 36,4 persen lari ke saudara, dan 13,6 persen ke tetangga untuk mencari pinjaman cepat. Selebihnya, 4,5 persen pinjam ke sesama pedagang.
“Nah, yang persentase terkecil itu diduga sebagai rentenir. Peran BMT yang merupakan koperasi syariah, mengambil target market ke masyarakat yang belum mempercayakan koperasi sebagai tujuan pinjaman kreditnya,” paparnya.
Menurut Marissa, BMT merupakan wajah Indonesia di masa mendatang. Apalagi sebagian besar masyarakat Indonesia berada di level usaha kecil dan menengah. Biasanya mereka mengajukan pinjaman tidak sampai ratusan juta layaknya pengusaha besar. Sedangkan untuk mendatangi perbankan, mereka membutuhkan total cost yang besar pula. Maka, keberadaan BMT menjadi satu pilihan bagi masyarakat.
“BMT tidak sama dengan perbankan. Ini merupakan satu keuntungan sekaligus satu kendala. Keberadaan BMT tidak mengikuti Peraturan Bank Indonesia (PBI), sehingga aturan mengenai ekonomi syariah ini belum sepenuhnya diatur. Maka diperlukan satu regulasi yang jelas kedepannya,” katanya istri Ikang Fauzi ini. (ila)
“Marissa Haque Fawzi: Alhamdulillah Nilai “A” Bulat untuk Ujian Sidang MBA ku dari FEB UGM”
“Terimakasih BMT Beringharjo & Radar Yogyakarta: Marissa Haque Fawzi”
Dari: “Damai Hatiku di Yogyakarta: Marissa Haque Fawzi”
Kata Mbak Meta Thereskova salah seorang karibku di Yogyakarta: “…kan Yogyakarta memang istimewa?” Hehe…iya juga ya, bukankah Yogyakarta adalah DIY singkatan dari Daerah Istimewa Yogyakarta?
Di hari Minggu yang sepi di Pelangi Bintaro, Tangerang Selatan, Banten, pada hari kedua pasca kepulangan dari Yogyakarta kemarin, masih terbayang suasana dan aura Yogya yang pada bulan Agustus 2011 ini semilir anginnya terasa sangat sejuk. Sambil membalas beberapa sms terakhir yang masih tersisa di dalam kedua HP ku, tangan ini pun terasa ingin cepat-cepat mengatur jadwal keberangkatan berikutnya untuk kembali ke Yogyakarta.
Yogya memang sekarang menjadi seperti rumah kedua kami (Ikang dan Marissa). Ada rasa damai-menyenangkan tertentu yang kami rasakan dikala bersentuhan dengan tradisi, alam, kultur, serta masyarakatnya di sana. Kesan mendalam kami bahwa masyarakat Yogya itu masyarakat hangat serta sangat santun. Bahkan Kak Rambe (dra. Mursida Rambe) sahabatku sejak lama seorang pejuang dan pengusaha BMT asal Sumatra Utara, karena sudah sejak SMA sekolah di Yogya dan menikah dengan seorang pria Yogya, sekarang sudah sangat ‘njaweni.’ Malah terkadang lebih Jawa dari orang Jawa yang asli.

Pada bulan Januari tahun 2011 lalu, Ikang Fawzi suamiku alhamdulillah berhasil mendapatkan gelar MBA nya dari FEB UGM dengan nilai ujian thesis ”A” bulat. Ikang suamiku memang selalu punya hati dan penuh perhatian pada bisnis properti yang telah dijalankannya sejak awal lulus S1 dulu dari FISIP UI bersama Ir. Ade Syamsul Nilwan Fawzi kakaknya yang menjadi seorang arsitek (lulusan FT Arsitektur UI). Insya Allah dalam bulan suci Ramadhan ini saya berhasil mengikuti langkah sukses Ikang Fawzi suamiku. Yaitu mendapatkan gelar MBA dari FEB UGM.
Lalu apakah saya juga mampu mendapatkan nilai kelulusan ujian thesis dengan juga bernilai ”A” bulat seperti Ikang suamiku? Hhhmmm…entahlah…terserah Allah SWT saja, dan terserah penilaian Dewan Penguji besok ini . Karenanya saya jadi lalu terngiang pesan atau wejangan dari Mamaku almarhumah asal Madura, R.Ay Mieke Soeharijah sebagai berikut: “… just do the best and Allah will do the rest!”
Penelitianku untuk MBA dari FEB (Fakultas Ekonomi Bisnis) UGM (Universitas Gadjah Mada) adalah tentang Baitut Tamwil atau Baitul Maal wa Tamwil. Sebuah lembaga keuangan mikro syariah non-bank di kota Yogyakarta bernama BMT Beringhardjo. Bagaimana strategi bersaing serta bertahan para kelompok penggiat BMT di seluruh Indonesia, dengan studi kasus di Yogyakarta . BMT yang selama ini terbangun secara alamiah serta tanpa sentuhan atau campur-tangan pemerintah pusat. Serta sampai hari ini menolak untuk diberlakukan sama denga perbankan pada umumnya yang berada di bawah PBI (Peraturan Bank Indonesia).
Namun, ditengah gempuran arus deras hot money dari luar negeri belakangan ini, melalui BEI (Bura Efek Indonesia) serta beberapa perbankan nasional dan asing yang turut masuk pada pasar yang sama ber’baju’ syariah serta memberikan penawaran lebih menarik berupa cost of money yang rendah. Hari ini, para penggiat BMT ini tidak bisa lagi beroperasi dengan cara tradisonal seperti biasanya di masa kejayaan masa lalu. Diperlukan “Strategy and Initiative Management Office.”
Bila sebelumnya seperti layaknya pengusaha kelas UKM dan UMKM, BMT sering menganggap tidak terlalu penting urusan strategi, maka pada masa borderless world sekarang ini strategi memaegang peranan signifikan dalam memenangkan persaingan serta mampu menjawab tantangan zaman.
Sejujurnya, BOS atau the Blue Ocean Strategy belum dibutuhkan pada level BMT. Karena dengan hampir 80% penduduk Muslim di Indonesia, BMT yang berlandaskan Islam secara otomatis menjadikan para pesaing dari lembaga keuangan konvensional menjadi “tidak relevan.”
Yang penting dalam kaitan keberadaan BMT agar berkelanjutan adalah, bahwa bagaimana setelah mereka tahu bahwa mereka baik, mereka juga tahu seberapa baik yang mereka inginkan ke depannnya (harus dicapai). Atau dalam bahasa ‘keren’nya adalah: “They know that they are good, but how good they really wanna be!” Tentu semuanya kembali kepada tujuan awal perusahaan didirikan atau dibentuk, berupa visi dan misi BMT.
Bersentuhan dengan Mazhab Bulaksumur di UGM, mengasah asa kepedulianku pada aliran Ekonomi Kerakyatan. Almarhum Prof. Mubyarto memang tidak pernah kutemui secara langsung, karena saya baru bergabung dengan UGM pada masa kurang dari empat tahun belakangan ini. Namun hampir seluruh buku yang dikarang dan ditulis beliau telah habis saya baca. Sehingga ketika saya memperdalam sistem ekonomi dalam Islam, langsung terasa ” klik” atau kohesif seluruh pemikiran beliau, mirip dengan yang apa yang ada di dalam Al Quran.
Seperti juga dalam banyak pemkiran Prof. Satjipto Rahardjo dalam ranah Ilmu Hukum, rasanya kok banyak sekali yang klik dengan pemikiran sistem hukum dalam Islam!
Lalu kesamaan di antara keduanya adalah, bahwa dua professor favoritku tersebut banyak dimusuhi oleh koleganya sendiri karena dianggap berpikir diluar kotak (out of the box). Namun, bukankah Rasulullah Muhammad SAW disaat menjalankan upaya dakwah rahmatan lil alamin nya juga berkondisi demikian?
Sehingga ketika datang pelecehan massal dari arah tak bertanggungjawab yang menuding bahwa saya mencari popularitas dengan memperdalam ekonomi Islam, lalu karena saya adalah artis tua yang sudah tidak laku lagi di sana-sini, maka walau hati ini terasa pilu namun langkah kaki tetap kuayuhkan secara mantap menuju ‘Muara” Sang Kekasih Abadi… Allah Azza wa Jalla.
Di sisa usiaku kini, masih ada beberapa cita-cita yang belum kesampaian. Salah satunya adalah menjadi ahli dalam strategi ekonomi syariah serta menjadi konsultan pada Bursa Efek Indonesia di Jakarta terkait the Islamic Index. Insya Allah demikian adanya, untuk hidup serta masa depanku di jalan Allah.
Seluruh ilmu yang kudapatkan di dalam pencapaiannya adalah dari Universitas Gadjah Mada di Yogayakarta (dan Jakarta). I wish Allah SWT will always bless UGM and Yogyakarta as well.
Amiiin…
“Damai Hatiku di Yogyakarta: Marissa Haque Fawzi”
Tak usah kau benci org yg menghujatmu, krn satu saat mgkin dia akan menjadi sahabatmu….Doakan dan pasrahkan pada Allah SWT…..
Dalam: “Ketika Chikita Fawzi Kami Mendoakan Ibu & Ayahnya: Ikang Fawzi & Marissa Haque”

Marissa Haque, beberapa kali dalam talkshownya bicara tentang BMT dan pengembangan usaha kecil dan mikro. Kali ini Wartawan Tamaddun Zubaeri At berhasil mewawancarainya, ketika Marissa menghadiri acara BMT Summit dan Top Managemen BMT Workshop yang diselenggarakan oleh BMT Center di Jakarta bulan Oktober lalu. Kehadirannya di acara tersebut membuktikan bahwa Marissa peduli BMT. Berikut pandangan Marissa tentang BMT dan usaha mikro tahun 2011.
Mbak Marissa, apa pendapat anda tentang BMT?
Saya tahu BMT, karena di dekat rumah saya ada BMT. Saya banyak mendengar tentang kelebihan layanan BMT. Dalam akad BMT sesuai syariah tidak ada denda dan kadang tidak pakai jaminan.
BMT juga dalam pembiayaan tanpa menggunakan prinsip 5 C + 1 S sebagaimana lembaga keuangan selama ini, yakni karakter, kapasitas, modal, jaminan, kondisi dan satu tambahan syariah dalam memberikan pembiayaan keapada anggota.
Menurut mbak Marissa, apa yang mesti diupayakan untuk BMT?
Menurut saya, perlu diusahakan adanya payung hukum yang jelas buat BMT dari pemerintah terkait dengan perlindungan. Kita tahu, BMT di saat krisis kemarin mampu bertahan dan dapat memulihkan ekonomi bangsa, karena denyutnya riil, nyata pada sektor mikro.
TAMZIS pembiayaannya fokus pada pasar, sejauhmana sumbangsih BMT kepada pasar?
Kebetulan saya sedang menyelesaikan tesis saya fakultas ekonomi UGM berkaitan dengan BMT, khususnya pada salah satu BMT di Jogjakarta. Saya melihat bagimana BMT memberi sumbangsih besar dalam menghapus lintah darat atau rentenir, padahal pedagang butuh modal. Nah, itulah tugas BMT untuk memberi modal. Makanya diawal saya katakan BMT perlu perlindungan hukum dari pemerintah.
BMT selain memberi modal usaha, sebenarnya BMT juga mengajarkan pola hidup syariah, bagaimana menurut mbak?
Itu memang yang diharapkan dari BMT. Penelitian saya di BMT yang saya teliti setiap bulannya mengadakan pengajian umum dan penggeraknya anaknya sultan yakni Gusti Pembayun dan saya dua kali ikut pengajian tersebut.
Dalam pengajian pedagang juga dikenalkan dengan istilah-istilah ekonomi syariah kepada pedagang. Saya kira istilah-istilah tersebut ketika sering diucapkan dan dipraktekkan, pedagang akan lebih mudah dan cepat memahami. Bisa juga mengenalkan ekonomi syariah melalui radio komunitas yang ada disuatu pasar tertentu, dan itu tidak perlu biaya mahal tapi mengena.
Bagaimana prospek BMT di Tahun 2011?
Baik, dan akan semakin baik. Tapi persoalan BMT terbesar adalah payung hukum yang tidak ada atau belum ada.
Apa yang mesti dilakukan BMT untuk meningkatkan pelayanan?
Ya sosialisasi. Bikin pengajian akbar dipasar-pasar. Itu dahwah lo, bukankah khalifah Umar berdakwah dipasar, yakni dakwah bil hal (dakwah dengan tindakan).
Bagaimana BMT ke depan?
Harapannya, BMT tetap low profil, setia melayani sektor mikro yang penting high profit (keuntungan tinggi) itu lebih penting. BMT tidak boleh berubah identitas apalagi spirit. Islam itu harus kaya, makanya harus high profit, itu berkaitan harga diri. Rasulullah sendiri umur 12 tahun sudah dagang, jadi interpreneurship. Ada juga hadis yang mengatakan 90% rizki di jalan Allah diperoleh dari usaha dagang
Sumber: http://www.tamzis.com/index.php?option=c…
Photo Courtesy of RA Menik Kodrat
Menurut Imam Al-Ghazali, kepatuhan kepada Allah akan mengilapkan hati seseorang, sedangkan maksiat kepada-Nya, akan menghitamkannya. Nah, bagaimana dgn orang yg berbuat dosa lalu segera berbuat baik Al Ghazali menjelaskan lebih lanjut bahwa, hati seseorang tersebut tidak otomatis hitam. Cuma cahayanya jadi berkurang. Sama spt sebuah cermin yg tertutup hembusan nafas lalu disapu, kemudian dihembusi lagi, disapu lagi. Meski bersih, masih menyisakan keruh.

Terimakasih banyak Bang Syam, may Allah always bless you…

Manager Kandatel Tasikmalaya, Wahyudin kepada wartawan mengatakan, pelatihan digelar kantor pusatnya, dan jajarannya hanya menfasilitasi tempat serta peserta. Pada kegiatan ini selain berupa penyampaian materi pencerahan oleh sejumlah sumber kompeten, pihaknya mulai menyiapkan website bagi pelaku UKM sebagai ajang publikasi.
Selain beberapa tantangan lama masih mengungkungi pelaku industri UKM halnya, kemampuan SDM, inovasi produk dan akses pasar, Ketua Kadin Kota Tasikmalaya, Wahyu Tri Rahmadi, saat ditanya terpisah memaparkan, keterbatasan akses pelaku ini terhadap fasilitas promosi atau publikasi digital adalah bagian lain dari tantangan yang di harapkan ke depan terpecahkan.
“Karenanya, kita sangat apresiasif kegiatan serupa ini sebagai kepedulian yang diharapkan lebih komprehensif memenuhi kebutuhan solusi permasalahan yang dialami pelaku UKM,” ujar Wahyu. “Saya pun yakin, melalui layanan publikasi digital gratis, sangat besar artinya bagi kalangan UKM, produk-produk unggulan lokal kita-akan terpromosikan secara luas yang tentu artinya bagi kemajuan ekonomi masyarakat,” pungkas dia.
Pada pelatihan itu hadir imagineer N. Syamsuddin Ch. Haesy, sebagai motivator yang bersama imagineer Yus Ruslan Achmad memberikan materi Imagineering Mindset, Master trainer Ismeth Ali, Pemimpin Redaksi Jurnal Nasional Asro kamal Rokan, dan Marissa Haque. [nm]
Sumber: http://www.akarpadi.com/?p=1928